5 Pesepakbola Bersemangat Paskah

Besok (27/06), umat kristiani di Indonesia merayakan Hari Raya Paskah. Entah kenapa, di negara kita ini Paskah selalu dirayakan pada Hari Minggu, padahal jika merujuk kepada injil Matius 12:40:

“Sebagaimana Yunus berada di perut ikan paus selama tiga hari dan tiga malam; anak manusia juga akan berada di inti bumi selama tiga hari tiga malam“. 

Artinya, jika kematian Yesus diperingati sebagai Jumat Agung, Hari Raya Paskah seharusnya diperingati setiap Senin.

Inggris mempercayai hal ini, dan oleh karena-nya, di sana ada sebuah program sepak bola yang dikenal dengan “Easter Monday“.

Sayangnya bukan itu yang akan diungkap kali ini…

Biarkan setiap individu mempercayai apa yang mereka ingin percaya, karena semangat Paskah akan selalu sama, lahir baru.

Berikut adalah lima pesepakbola yang memiliki semangat Paskah dalam perjalanan karir mereka:

5. Jamie Vardy (Leicester City)

1372
Vardy sempat frustasi | PHOTO: Guardian

Penyerang sensasional Barcalays Premier League (BPL) musim ini seakan tak pernah kesulitan mengarahkan lampu sorot kepada dirinya.

Ia dikenal sebagai mantan pemain non-league, semi-amatir Inggris yang mengalahkan rekor van Nistelrooy dalam hal mencetak gol beruntun.

Penampilan gemilangnya jadi salah satu kunci kesuksesan Leicester musim ini, tapi jauh sebelum itu, pujian adalah hal langka bagi seorang Vardy.

Diboyong Nigel Pearson dari Fleetwood Town pada Juli 2012, ia mendarat di King Power berstatus pemain non-liga termahal sepanjang sejarah, 930 ribu Poundsterling.

Hanya mencetak empat gol di musim pertamanya bersama Leicester, Jamie Vardy sempat berpikir untuk undur diri dari sepak bola, tapi Pearson yang dihujat karena pembelian gagalnya, tetap percaya pada striker kelahiran Sheffield.

Ia kemudian membantu Leicester City menjuarai divisi dua Inggris di musim berikutnya dengan raihan 16 gol.

Berperan penting dalam keberhasilan The Foxes -julukan Leicester- hindari degradasi musim lalu, kisah Vardy kini ingin diangkat Hollywood ke layar lebar.

4. Hatem Ben Arfa (OGC Nice)

Hatem-Ben-Arfa
Tertahan regulasi | PHOTO: Irish Mirror

Gelandang kreatif satu ini sempat menjadi penghangat bangku cadangan Newcastle United selama beberapa musim terakhir di St.James Park.

Bahkan musim lalu dirinya harus vakum dari dunia sepak bola selama enam bulan karena melanggar aturan pendaftaran pemain.

Hatem Ben Arfa yang saat itu masih berseragam Newcastle dipinjamkan The Magpies -julukan Newcastle- ke Hull pada September 2014.

Tampil 10 kali bersama Hull, Ben Arfa hijrah ke OGC Nice pada Januari 2015.

Sialnya, regulasi FIFA mengatakan bahwa seorang pemain profesional hanya boleh memperkuat dua klub dalam semusim.

Aturan ini menyatakan pemain berhak terdaftar di tiga klub dalam satu musim, tapi ia hanya diizinkan membela dua diantaranya. Ben Arfa ?

Sialnya, ia sempat memperkuat Newcastle U-21 sebelum dipinjamkan ke Hull City, artinya selama musim 2014/15, Ben Arfa telah mengenakan dua seragam. Ben Arfa boleh didaftarkan sebagai pemain OGC Nice, tapi ia tak diperkenankan untuk ada di atas lapangan.

Mantan pemain Lyon ini akhirnya vakum dari laga profesional selama 1/2 tahun. Untungnya, pada masa-masa sulit itu, Nice memperbolehkan Arfa untuk tetap berlatih dengan klub. Alhasil, musim ini ia kembali merumput sebagai kunci Nice.

Menjadi otak di balik 16 gol OGC Nice musim ini, Hatem Ben Arfa kembali dipanggil ke tim nasional, dan sedang menatap UEFA Champions League 2016/17.

3. Gareth Bale (Tottenham Hotspur)

54467f3e68330
No caption needed | PHOTO: Sport Bible

Tak perlu banyak bicara tentang pemain satu ini.

Semua orang pasti tahu bagaimana ex-Southampton sempat menjadi salah satu pembelian terburuk Tottenham dan hampir bergabung Birmingham City sebelum merasakan rumput Bernabeu -kandang Real Madrid-.

Alasan Bale ada di posisi tiga meski memiliki nilai transfer di luar akal sehat adalah peran Harry Redknapp. Tanpa Redknapp yang mendorong posisinya ke luar dari zona pertahanan, tak mungkin Gareth Bale akan segemilang ini.

Tanpa Redknapp, mustahil Real Madrid menggelontorkan 100 juta Euro untuk dirinya.

2. Diego Forlan (Villarreal)

Diego-Forlan-scored-Urugu-006
Kualitas yang tak pernah dirasakan Man.Utd | PHOTO: Guardian

Nama Diego Forlan akan dikenang untuk beberapa hal, tapi satu yang tak bisa lepas darinya adalah ‘kutukan bursa transfer musim dingin’.

Kala itu, Diego Forlan dipinang oleh Manchester United saat masih berusia 22 tahun. Forlan memilih Manchester United walaupun klub Inggris lain, Middlesbrough juga menginginkan jasanya.

Membuat seorang Sir Alex Ferguson merogeh kocek 6.5 juta Poundsterling pada tahun 2002, Diego Forlan datang ke Old Trafford dengan beban berat. Nyatanya, beban itu tak bisa ia penuhi dengan hanya mencetak 14 gol dalam waktu 3.5 tahun di Manchester.

Forlan akhirnya dijual Manchester United ke Villarreal.

Bersama Yellow Submarines -julukan Villarreal-, Forlan sukses buktikan kualitasnya.

Ia membantu klub menembus semi-final UEFA Champions League, meraih gelar top-skorer La Liga, hingga berbagi sepatu emas Eropa dengan Thierry Henry!

Keberhasilan Diego Forlan di Spanyol berlanjut bersama Atletico Madrid yang menebusnya 15 juta Poundsterling lebih pada 2007.

Berduet dengan Aguero, ia kembali menjadi striker tertajam La Liga, dan memenangkan UEFA Cup & Europa Super Cup.

Sebenarnya, karir Forlan mirip dengan Giuseppe Rossi, namun satu hal yang membuat dirinya masuk daftar ini adalah prestasinya bersama tim nasional Uruguay.

Setelah lepas dari Manchester United, Forlan berhasil membawa Uruguay juara Copa America dan menempati juara empat Piala Dunia 2010.

Gol yang ia cetak melawan Ghana dan Belanda di Afrika Selatan sudah cukup jadi bukti.

Kini, Diego Forlan mungkin telah uzur, dan malang-melintang hingga ke Jepang sebelum pulang membela tim akademinya, Penarol.

1. Fabio Cannavaro (Juventus)

&NCS_modified=20130819191700&MaxW=640&imageVersion=default&AR-307109943
Lebih dari Pele & Platini | PHOTO: The National

Kapten Italia di Piala Dunia 2006 bisa dikatakan sebagai salah satu bek terbaik dunia di era sepak bola modern. Ia merupakan salah satu generasi emas Parma di mana dirinya bermain lebih dari 250 kali untuk Si Kuning-Biru, disinilah Fabio Cannavaro dipanggil untuk pertama kalinya oleh tim nasional Italia.

Konsisten dan kokoh di lini belakang, memiliki dua piala dengan U-21 Italia, dan mengatarkan Gli Azuri ke final Euro 2000, Inter Milan menyodorkan 23 juta Euro untuk dirinya yang sudah 29 tahun.

Sialnya, Cannavaro kalah bersaing dengan Ivan Cordoba di posisi bek tengah. Ia-pun lebih sering dimainkan sebagai bek sayap oleh Alberto Zaccheroni, dan Hector Cuper.

Merasa rugi, Inter Milan menggunakan jasa Cannavaro sebagai alat barter guna mendapatkan Fabian Carini dari Juventus, dan seperti kita tahu, Si Nyonya Tua dari Turin menang banyak dari kesepakatan ini.

Bersama Cannavaro, Juventus sukses mengangkat dua piala Serie-A sebelum kasus Calciopolli dan ditinggal Sang pemain ke Real Madrid.

Sebelum hijrah ke Real Madrid dan menjadi pemain inti di sana, Cannavaro meninggalkan negaranya dengan status bek, sekaligus pemain terbaik Serie-A, Piala perak dan juga gelar Piala Dunia 2006.

Merantau ke Spanyol dengan gelar  “Ufficiale Ordine al Merito della Repubblica Italiana“, Cannavaro jadi bek pertama yang meraih Ballon d’Or setelah  Franz Beckenbauer (1972 & 1976).

Inilah alasan mengapa kelahiran Cannavaro usai meninggalkan Inter Milan lebih spesial dibanding Pele atau Platini yang sempat dihantui cedera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s