Terkikisnya Tempat Suporter

https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2016/03/17/58/1093800/piala-bhayangkara-jaga-semangat-sepak-bola-indonesia-6mK.jpg

Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang menunjukkan sifat asli dari kata ‘cinta’. Dalam permainan ini, menang atau kalah, para suporter akan terus mendukung tim kesayangan dan tak berpindah ke lain hati.

Susah ataupun senang dinikmati sebagai kisah perjalanan hidup kita. Meski sadar akan campur tangan mafia dalam pertandingan, kita tetap bertahan dan tak meninggalkan sepak bola.

Berbagai cara ia lakukan untuk menyiksa kita, kalah, degradasi, bankrut, dan tetap saja sepak bola mendapatkan cinta yang lebih.

Suporter bukan masokis, tidak ada perasaan senang yang timbul kala tim kami harus dilanda krisis poin dan ekonomi, tapi sampai kapan sepak bola akan menyaliti kita ?

Saat sepak bola Indonesia dibekukan oleh FIFA, para penikmat sepak bola harus vakum menyaksikan pertandingan kompetitif.

Baik liga ataupun tim nasional tidak mendapat izin untuk berjalan, dan satu-satunya yang bisa mereka berikan hanyalah turnamen-turnamen hiburan.

Presiden, Gubenur, Jenderal, apapun namanya, tetap saja mereka tidak bisa memberikan nilai sebesar liga atau kompetisi internasional.

Turun kelas, kita tetap saja datang menyaksikan pertandingan-pertandingan yang disajikan, dan hanya ada satu alasan yang bisa menjelaskan sikap suporter: Cinta.

e
Borneo FC bayar penonton | PHOTO: Klik Samarinda

Namun sepak bola seakan tak kehilangan akal untuk menyiksa kita, setelah derajat klub dan pemain profesional diturunkan jadi amatir, kini para suporter juga harus kehilangan tempat di tribun.

18 Maret 2016, beberapa komunitas motor mendapatkan undangan untuk meramaikan pertandingan Borneo FC di Bandung. Lebih dari itu, mereka tinggal datang membawa badan karena biaya parkir, tiket, merchandise  semua sudah ditanggung oleh pihak klub.

Borneo FC bahkan kabarnya membayar setiap ‘relawan’ yang datang seharga 40 ribu Rupiah. Ya, penonton bayaran telah hadir di dunia sepak bola!

Ketua umum salah satu komunitas motor yang diundang Borneo FC mengaku kelompoknya juga telah mendapat permintaan dari klub untuk datang dalam pertandingan 22 dan 24 Maret.

“Kami memang diminta datang untuk meraimakan stadion.”

“Tujuannya ya jelas supaya pertandingan ini tak terkesan sepi.”

“Kami ke sana juga datang ke sana sebagai suporter Borneo FC.”, Ujarnya.

Komunitas motor itu mengaku bahwa diri mereka ada suporter Persib Bandung, dan tak akan melakukan hal serupa jika Borneo bertemu Tony Sucipto dan kawan-kawan, tapi kenapa harus datang sebagai suporter dan bukan komunitas motor yang menyaksikan sepak bola ?

Bukan sesuatu yang haram-kan ?

Nyatanya suporter bayaran tidak hanya terjadi di laga Borneo FC kemarin, tapi juga pertandingan final Bhayangkara Cup 2016 yang mempertemukan Persib dan Arema Cronus di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Lewat akun LINE-nya, seorang wanita meminta 300 orang wanita untuk datang ke SUGBK demi memenuhkan stadion.

f
Nonton bola butuh audisi | PHOTO: Screencapture / LINE

Tak tanggung-tanggung, di dalam pesannya tersebut juga tertera kriteria tinggi badan dan akan mendapat bayaran 10 kali lipat dari laga Borneo FC bulan lalu.

300 orang mungkin tak akan memakan banyak tempat di sebuah stadion berkapasitas 80 ribu penonton, tapi mereka dapat datang, duduk manis secara gratis sementara suporter Arema dan Persib harus mengeluarkan banyak uang untuk ke Jakarta. Belum lagi dengan risiko keselamatan yang mereka terima. Adilkah ?

Jika kita lihat, kedua pesan meminta ratusan orang untuk meramaikan stadion.

Pihak klub juga tidak keberatan membayar tiket mereka, artinya bukan pendapatan panitia penyelenggara (panpel), tapi atmosfer stadion, keindahan kamera telivisi dan lain-lain.

Kita tahu bahwa hampir tiap pertandingan, apalagi turnamen, panpel harus menyediakan beberapa lembar tiket untuk tim sponsor.

Untuk kompetisi seperti AFF, Kualifikasi AFC Cup, dan Piala Dunia, sebuah tribun sudah pasti akan dipenuhi oleh pihak sponsor. Itu minimal.

Saat Indonesia bertemu Korea Selatan pada 2008, hampir tiga sampai lima sektor dipenuhi pihak sponsor.

Itu baru sponsor, belum lagi kehadiran calo di stadion yang setiap pertandingan bisa memegang 1/4 dari total tiket yang didistribusikan oleh loket.

Bagaimana pihak suporter bisa mendapatkan hak mereka jika mayoritas tiket sudah dilepas ke orang-orang yang mencari keuntungan ?

2008, Indonesia bertemu Bahrain di SUGBK, loket buka pukul 10.00 WIB, semua suporter sudah menunggu sejak pagi, dan saat loket buka.

Penjaga loket hanya mengatakan bahwa tiket pertandingan tersebut sudah habis terjual sebelum mereka buka. Pihak suporter yang tidak menerima perjalanan mereka berakhir sia-sia akhirnya mendobrak masuk dan mayoritas di antara mereka hanya mendapatkan tribun atas untuk diisi.

Hampir setiap laga tim nasional, penonton di stadion membeludak bahkan melebihi kapasitas, tapi kenapa kali ini membutuhkan penonton bayaran sebagai peramai ?

Mungkin memang pertandingan yang tersaji tak begitu berarti untuk mereka, atau kita belum bisa menjadikan sepak bola sebagai olahraga rakyat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s