Besar, Banci, Banyak Uang, Pecundang!

http://www.telegraph.co.uk/content/dam/football/2016/03/02/champleaguedraw-large_trans++qVzuuqpFlyLIwiB6NTmJwfSVWeZ_vEN7c6bHu2jJnT8.jpg

Liga Super Eropa merupakan mimpi klub-klub superior Benua Biru.

Mereka akan terus bertemu dengan tim-tim sekelas dalam kompetisi ini, meraup keuntungan lebih lewat penjualan tiket dan hak siar televisi, yang kaya akan semakin berkelimpahan, terus mendominasi pasar sepak bola.

Setidaknya itulah yang ada dipikiran Presiden Real Madrid, Florentino Perez kala ia membuat proposal terkait Liga Super Eropa.

Guarantees that the best always play the best – something that does not happen in the Champions League.“, itulah yang tertulis di halaman wikipedia Liga Super Eropa. Merasa terancam, UEFA kini mulai memutar otak, ‘memperbaiki UEFA Champions League (UCL)

Menurut laporam Mirror, format baru yang sedang dikaji adalah pengurangan peserta dari 32 tim di fase grup jadi 16 klub, dibagi ke dalam dua grup dengan masing-masing delapan peserta.

The Independent menambahkan bahwa format ini akan hanya mengakomodir delapan negara terbaik UEFA, artinya jika mulai diterapkan musim depan, UCL hanya berisikan klub Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, Portugal, Russia dan Ukraina. Tanpa Ajax, Galatasaray, Celtic, Anderlecht dan lainnya.

Sebuah langkah berani dari UEFA mengingat asosiasi sepak bola Eropa itu memayungi 54 negara. Itu belum termasuk Monako, Kepulauan Jersey, dan Katalonia yang sedang mengincar kartu anggota FIFA.

miguel--621x414
Gil Marin percaya kemampuan Atletico Madrid | PHOTO: Live Mint

Mereka yang punya pamor dan uang, sudah selayaknya memiliki kekuatan.

Wacana ini menjadi bentuk ketakutan UEFA pada klub superior seperti Real Madrid. Bahkan, laga antara Atletico Madrid melawan FC Barcelona di UCL pekan lalu sudah memberikan indikasi tersebut.

Bek Atletico Madrid, Felipe Luis menyebut wasit Felix Brych membela klub Katalan dengan mengusir Fernando Torres. Sebuah dakwaan yang melekat lama di FC Barcelona, tapi hal ini diperkuat oleh Gil Marin, mantan presiden Atletico Madrid yang mengindikasikan konspirasi Jerman di laga tersebut.

Ia setuju akan keputusan Brych yang mengusir Torres, tapi menurutnya, Luis Suarez juga harus mendapatkan nasib serupa.

“Karl-Heinz Rummenigge ingin semi-final UCL sesuai dengan keinginannya, dan hal itu akan terjadi.”, Kata Marin kepada Marca.

Sebelum Atletico Madrid bertemu FC Barcelona, CEO Bayern Muenchen, Karl-Heinz Rummenigge memprotes UEFA yang mempertemukan klubnya dengan Juventus dan masih memungkinkan Benfica untuk lolos ke delapan besar.

Felix Brych kebetulan juga asal Jerman dan muncullah teori konsipirasi itu.

“Sepak bola seharusnya tidak didominasi oleh klub-klub besar!”, Ujar Marin.

maxresdefault (1)
Chelsea kabarnya ikut rapat rahasia | PHOTO: Youtuibe

Unik jika kita melihat pola sepak bola modern, label ‘besar’ didapat karena mereka berhasil mendominasi lapangan sepak bola.

Kata ‘besar’ tak akan melekat jika mereka gagal menunjukkan konsistensinya meraih gelar dan tiket zona Eropa di kompetisi masing-masing, dan menurut nahkoda FC Barcelona, Luis Enrique, Atletico Madrid jugalah ‘klub besar’.

Logikanya Atletico Madrid melemparkan kritik pada kaumnya sendiri. SALUT!

Sikap Gil Marin itu patut dipuji, ia yakin Atletico Madrid tidak takut akan ancaman klub-klub kuda hitam yang bisa mengancam kemapanan klub.

Ya, takut, dari semua alasan yang diucapkan perwakilan klub superior Eropa, intinya hanyalah satu, ketakutan. Uang dan tingkat kompetisi hanyalah zona aman yang mereka sebutkan sebagai tameng di media massa.

Bayangkan bagaimana bisa konsep yang sudah ditawarkan Perez sejak 2009 baru mendapat perhatian sebesar ini tujuh tahun kemudian.

Saat di mana Leicester City, Tottenham Hotspur, West Ham United, OGC Nice, Stade Rennes, Celta Vigo, Villarreal, Sassuolo, Fiorentina, dan Hertha Berlin sedang merasakan masa-masa terbaiknya, merusak tatanan liga.

Pada saat bersamaan, Chelsea, Olympique Marseille, Lyon, Valencia, Sevilla, Inter Milan, hingga Juventus dihadapkan dengan perlawanan berat berbagai klub yang di atas kertas kalah kualitas dibanding mereka.

Bahkan pada pertandingan La Liga minggu lalu, FC Barcelona tunduk 1-0 dari Real Sociedad sejak lima menit pertama.

Kejutan-kejutan inilah yang ingin dihapuskan dengan Liga Super Eropa.

Sebagai klub raksasa, mereka tidak ingin menanggung malu dengan kalah melawan tim ‘kacangan‘, dan keberadaan Liga Super Eropa, para superior tak perlu takut akan hal tersebut.

Kalah dari sesama ‘klub besar’ lebih dapat dimaklumi, dan tidak memberikan rasa malu seperti tunduk melawan ‘klub medioker’.

dea957bac0bebb791382ef67b7f6ba42
Ketakutan abadi | PHOTO: Quotesgram

Para klub superior Eropa sedang mengaplikasikan kata-kata Howard Phillips Lovecraft, seorang penulis novel fiksi horor yang membuat makhluk mitologi legendaris, Cthulhu. Coba di googling

Padahal kata Profesor Sosiologi dan Jenis Kelamin, Michael Kimmel, olahraga identik dengan maskulinitas, sifat tersebut condong ke laki-laki.

Entah bagaimana mereka di Eropa sana diajarkan, tapi hampir semua budaya di Indonesia mendoktrin para lelaki untuk berani.

Berani menghadapi tantangan dan keluar dari zona nyaman. Bukan manja seperti yang ditunjukkan oleh klub-klub superior Eropa yang meminta UEFA bertindak atau membentuk liga tandingan.

Lidah serasa ingin berkata, “Situ laki, bukan!?“, akan menjadi pilihan sebagai respon klub-klub manja Eropa. Untuk apa merubah format UCL, mengurangi tiket peserta, kala sistem yang sudah diterapkan saat ini bisa mengakomodir semua negara di Eropa.

Terdengar bias jenis kelamin, atau merendah pesepakbola perempuan mungkin, bukan maksud untuk melakukan hal itu.

Bayangkan saat para raksasa yang menyebut diri mereka sebagai ‘terbaik Eropa’ takut, tidak ada kata lebih tepat dibandingkan “pecundang”.

Wanita bukan pencundang, begitu juga dengan laki-laki, ini sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan jenis kelamin.

1280x720-pDH
Scott Sterling bahkan lebih menghibur | PHOTO: Daily Motion

Tidak ada kategori yang lebih tepat ketimbang “pecundang” bagi mereka yang menjadikan ‘liga kompetitif’ sebagai tameng mendapatkan zona nyaman.

UEFA sebagai ‘ayah’ dari klub negara-negara anggota harus berani bertindak tegas, mengajarkan pilihan sulit kepada’anak-anaknya’, bukan memanjakan mereka. Biarkan saja klub-klub manja yang mendukung Liga Super Eropa itu membuat kompetisi mereka.

Kehadiran kompetisi baru, ditambah liga, turnamen domestik dan UCL serta UEFA Europa League (UEL) seperti biasa akan memperketat jadwal mereka, dan hal itu akan membuat para manajer semakin gerah.

Perlu diingat bahwa Liga Super Eropa diinginkan petinggi-petinggi klub, bukan pelatih atau manajer di yang sudah sering menyalahkan jadwal saat ini.

Nantinya, mereka mungkin hanya akan melihat Liga Super Eropa sebagai laga uji coba, layaknya International Champions Cup.

Andai kata UEFA tidak merubah format kompetisi mereka, Liga Super Eropa hanya akan dipandang sebagai uji coba layaknya ICC. Tidak ada kepetingan apapun selain mendapat kebanggaan di mata dunia.

Menurut situs resmi ICC, ‘turnamen pra-musim antar klub-klub terbaik Eropa’ disaksikan oleh 80 juta pasang mata lewat layar televisi, sementara final UCL 2015 mencatatkan lebih dari dua kali lipatnya (180.000.000).

Uang hak siar lama-kelamaan akan menipis, dan akhirnya Liga Super Eropa dibubarkan.

Pada 2014, BBC sempat meliput pandangan warga Baton Rouge, Louisiana, di mana video tersebut mereka beri judul, “Football (soccer) seen as ‘sissyball’ in Deep South“. Yup, ‘sissyball‘, permainan bola untuk banci, dan sikap UEFA yang memanjakan para penakut dengan format baru UCL hanya akan membenarkan pandangan itu. Lagipula, sepak bola dilabeli sebagai olahraga rakyat, bukan konglomerat!`

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s