Haka, Genderang Perang yang Digencat FIFA

http://www.telegraph.co.uk/content/dam/football/2016/04/21/CgldbVSW4AEdaAk-xlarge_trans++XGVU14PDWc8RNN33ewoj5d3w56LE3yTYGhwtc0cHTDM.jpg

Hari ini (22/4), para pemain AC Milan menampilkan tarian ‘Haka’ sebelum menjamu Carpi di lanjutan Serie-A, Italia. Sebuah tarian tradisional Selandia Baru yang kembali dipopulerkan oleh tim nasional rugby mereka, “The All Blacks“.

Menurut laporan Telegraph, hal ini dilakukan atas kemauan sponsor baru mereka, Nivea. Tidak diketahui mengapa mereka ingin menampilkan tarian klasik milik Selandia Baru satu itu, tapi kubu AC Milan menyebutnya sebagai ‘Tekitanka‘.

Sialnya tidak ada jenis ‘Tekitanka’ dalam penjelasan Guardian terkait tarian Haka, September tahun lalu.

Pertama ada ‘Peru-Peru’, untuk perang, ini adalah Haka pertama di mana sekelompok pria pejuang Selandia Baru menarikannya sebelum berhadapan dengan lawan. Kemudian, ada juga ‘Taparahi’, tarian Haka tanpa menggunakan senjata.

Sementara tarian Haka yang ditampilkan tim Selandia Baru setiap laga rugby adalah ‘Kapa O Pango’.

z8OXE
Kapa O Pango milik The All Blacks | PHOTO: Reddit

‘Kapa O Pango’ dibuat khusus untuk rugby Selandia Baru dengan mengadopsi Haka ‘Ka Mate’, tarian selebrasi kepala suku Maori setelah lolos dari serangan musuh.

‘Ka Mate’ menjadi landasan ‘Kapa O Pango’, dan Haka menjadi sebuah atraksi tersendiri di dunia rugby, tapi olahraga itu bukan satu-satunya yang boleh melakukannya.

Mulai dari roller skate hingga sepak bola.

Pada sejarahnya, Haka memang dilakukan oleh para pejuang sebelum mereka berperang, itulah yang membuat hal ini sering disebut sebagai tarian perang. Namun nyatanya, ada pula Haka sebagai bentuk sambutan, kematian, dan perayaan. Bukan hanya perang.

Sebelum tarian ini kembali ke publik sepak bola dini hari tadi, FIFA sempat melarangnya pada Piala Dunia Wanita 2015 di Kanada.

“Kami dulu selalu melakukannya, tapi sekarang sudah tidak lagi.”

“FIFA melarangnya, kami ingin melakukannya tapi begitulah.”

“Tidak apa-apa”, Kata gelandang Selandia Baru, Betsy Hassett.

2180002_big-lnd
Tim Tahiti melakukan Haka | PHOTO: FIFA

Tidak jelas apa alasan FIFA melarang Haka, namun memang sudah banyak perdebatan terkait ‘Kapa O Pongo’ yang memiliki gestur memotong kepala sebagai bentuk intimidasi The All Blacks kepada lawan mereka.

Selain itu, Haka sebagai tarian perang memang hanya ditampilkan oleh kaum lelaki. Jika ada seorang perempuan di dalamnya, mereka biasanya hanya sebagai pelantun lagu.

Mungkin jenis kelamin menjadi salah satu pertimbangan FIFA dalam melarang Haka di Piala Dunia 2015, karena dalam situs mereka, ada artikel tentang tim nasional Jerman dan Tahiti (sepak bola pantai) yang sedang melakukan tarian tersebut.

Ya, Tahiti, karena Maori adalah sebuah suku, dan peluang mereka tersebar di luar Selandia Baru bukanlah sesuatu yang mustahil. Amerika Serikat, Inggris, ataupun Australia juga memiliki darah Maori, dan mereka rival dari The All Blacks. Untungnya Selandia Baru bukan Indonesia.

Haka telah hadir sebagai tarian identik rugby Selandia Baru pada akhir 80-an, sebelum ada asosiasi resmi untuk olahraga tersebut di ‘middle earth’.

2014, Ngati Toa Kaumatua, Hohepa Potini, menjelaskan kepada AIG esensi Haka. Katanya, Haka merupakan sebuah ritual yang menunjukkan kesiapan Selandia Baru.

Ia menyebutkan bahwa negaranya memiliki populasi yang tidak cukup tinggi, dan sering dipandang sebelah mata oleh lawan. Haka adalah bentuk mereka melupakan semua itu, serta memperingati lawannya untuk bersiap-siap.

Anggota The All Blacks, Keven Mealamu, menambahkan bahwa ritual Haka membantu mereka untuk sinkron satu sama lain, menyatu dengan rekan-rekan satu tim bahkan rumput yang mereka injak.

Bagi suku Maori, dan rakyat Selandia Baru, mereka mengenal Haka sebagai awal dan akhir. Persiapan, dan perayaan. Sejauh ini, tim nasional sepak bola Selandia Baru melakukan Haka sebagai perayaan, di akhir pertandingan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
2011, Terakhir kali  Haka di Piala Dunia Wanita | PHOTO:  The Atlantic

Sehingga aneh ketika FIFA melarang tarian tersebut ditampilkan pada Piala Dunia Wanita tahun lalu, dan berkat Nivea serta AC Milan kita kembali diingatkan akan hal ini.

13 November 2016, Papua Nugini akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita U-20, dan Selandia Baru merupakan salah satu tamunya.

Apakah saat itu Haka dapat kembali ke lapangan hijau ? Semoga aja..

Hingga kini, belum diketahui mengapa Haka dilarang oleh FIFA tahun lalu, tapi andai kata jenis kelamin menjadi penghalang, itu jelas bukan sesuatu yang ingin diungkapkan badan sepak bola tertinggi dunia.

Melihat sejarah dan pengakuan para pemain tim nasional rugby Selandia Baru, tarian ini berpengaruh besar dalam moral tim. Baik tim Selandia Baru ataupun lawan.

Tarian Haka sebelum bertanding bisa meningkatkan mental para pemain sekaligus bentuk intimidasi ke lawan. Sementara Haka seusai pertandingan, dapat dijadikan atraksi untuk meningkatkan kepekaan dunia terhadap sepak bola wanita.

Lagipula bukankah kesetaraan dan perhatian lebih untuk memajukan cabang ini menjadi agenda utama FIFA saat kongres di Hari Wanita Sedunia ?

Jadi, kenapa tidak!?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s