POINT OF VIEW

Bulls**t antara Ben Arfa & Barcelona

Musim 2015/16 segera berakhir untuk berbagai liga terbaik Eropa, tahun ini turnamen UEFA Euro akan menemani kita sepanjang bulan Juni dan Juli, tapi ada yang lebih setia dibandingkan pertandingan sepak bola itu sendiri, rumor transfer.

Beberapa rumor seperti kepergian Matt Hummels dari Borussia Dortmund ke Bayern Muenchen terdengar masuk akal. Hal itu sudah jadi kenyataan setelah kontrak lima tahun yang disodorkan Bayern sudah ditandatangani Hummels, tapi beberapa rumor lain terdengar seperti sampah di telinga.

Salah satu diantaranya adalah ketertarikan raksasa Spanyol, FC Barcelona pada gelandang OGC Nice, Hatem Ben Arfa.

Berbagai media gencar melemparkan berita ini, bahkan salah satu rumah judi asal Inggris, bet365, mengatakan mantan pemain Newcastle itu sudah masuk tahap negosiasi dengan klub asuhan Luis Enrique.

Jangan salah sangka, Hatem Ben Arfa memang seakan lahir kembali di OGC Nice. Sempat vakum selama setengah musim setelah terganjal “Third Club Regulation“, Hatem Ben Arfa tampil mengesankan sebagai tulang punggung klub di Ligue 1 2015/16.

Ia terlibat dalam 22 gol OGC Nice dengan 17 diantaranya ia cetak sendiri ke gawang lawan. Raihan tersebut berhasil mengangkat posisi klub ke empat besar Ligue 1 dengan peluang bermain di UEFA Champions League musim depan.

Bersama OGC Nice, Ben Arfa merasakan musim terbaik sepanjang karirnya, dan setelah tiga tahun, ia berhasil kembali ke tim nasional Perancis karenanya.

SIPA_rex40406089_000035
Ben Arfa = Griezmann | PHOTO: Metronews

Arfa adalah pemain yang bagus, ia memiliki kemampuan olah bola yang tinggi, dapat melewati hadangan tiga sampai empat bek seorang diri, dan ahli dalam mengeksekusi bola mati, tapi Barcelona ?

Tunggu dulu…

Hatem Ben Arfa memang sedang berada di pucak karirnya, tapi dengan segala kehebatan yang ia tunjukkan di lapangan, ada sebuah kekurangan dalam diri pria 29 tahun ini.

Jika di antara kalian ada yang sempat menyaksikan setidaknya tiga hingga lima laga OGC Nice musim ini, pasti sudah tahu apa kekurangan itu.

Ben Arfa adalah poros OGC Nice, rival SM Caen bahkan tak pernah mencatat kemenangan saat mengistirahatkan pria berzodiak Pisces satu itu -tiga imbang dan satu kekalahan-, tapi setiap kali dirinya bermain, ia bagai seorang Antoine Griezmann untuk Atletico Madrid.

Semua aliran bola tertuju kepada dirinya, bahkan lebih parah dari Griezmann, Hatem Ben Arfa juga menjadi eksekutor utama di setiap tendangan bola mati yang didapat OGC Nice.

Kalian mungkin bisa berkata, “Wajar, dia memang hebat dalam eksekusi bola mati.” Ya, sepertinya semua orang mengetahui hal itu, bahkan sudah tertulis dalam paragraf di atas bahwa tendangan bebas dan sepak pojok merupakan keahliannya, tapi ada hal janggal selama menyaksikan OGC Nice.

Ben-Arfa-Messi-Ronaldo
Sakho: Ben Arfa lebih sulit dibanding Messi & CR | PHOTO: Dream Team FC

Setiap kali Hatem Ben Arfa bermain dan OGC Nice mendapatkan sepak pojok, ia selalu melakukan operan pendek, guna mendapatkan kembali bola tersebut sebelum menusuk masuk ke kotak penalti lawan.

Sangat jarang ia menendang bola ke kotak penalti untuk disambut rekannya dengan sundulan, atau setidaknya menciptakan kemelut di depan gawang.

Entah apa yang ada dipikiran Ben Arfa, tapi dalam lima laga terakhir, cara itu sudah membuang setidaknya 12 peluang tim, dan tetap saja pemain-pemain Nice mengakomodir keinginan Hatem.

Apapun kebijakan Claude Puel yang mengizinkan hal tersebut terjadi, kita tahu bahwa Ben Arfa merupakan seorang pemain egois.

Tanyakan saja pada suporter Newcastle dan Marseille, semua keindahan klien Mondiel Sport itu selalu berawal lewat aksi individu, bukan tim.

Hal itu tidak akan terjadi jika Ben Arfa bermain bersama FC Barcelona. Klub asal Katalan itu terkenal dengan kerja sama tim, solidaritas dari lini depan hingga belakang menjaga bentuk mereka di lapangan.

Keberhasilan Hatem Ben Arfa musim ini terjadi karena dirinya mendapat kebebasan di lapangan, dan jika ada yang bisa mendapat keuntungan tersebut bersama FC Barcelona, namanya adalah Lionel Andres Messi!

1454910_w2
Terakhir kali Ben Arfa di Champions League | PHOTO: UEFA

Ben Arfa sebenarnya sudah menepis rumor kepindahannya ke FC Barcelona, tapi ia juga tidak tahu di mana dirinya akan bermain musim depan.

“Saya tidak menandatangani apapun dengan Barcelona.”

“Banyak rumor tentang masa depan saya, tapi tak layak dibicarakan.”

“Hal terpenting saat ini adalah lolos ke Champions League.”

“Setelah itu, saya tidak tahu seragam apa yang akan dikenakan musim depan.”

“Entah Nice, atau tim lain.”, Ujarnya kepada Eurosport.

Hal konyol jika menyadari dirinya sudah absen tiga tahun dari kompetisi kontinental, dan terakhir kali ia bermain di Champions League adalah saat masih bermain untuk Olympiue Marseille (2009/10).

Ucapannya kepada Eurosport seakan memberi indikasi bahwa dirinya akan meninggalkan Nice, klub yang membiarkan dirinya berlatih bersama selama setengah tahun, menjaga kebugaran, hingga akhirnya bisa seperti sekarang, jika mereka gagal mendapat tiket Champions League 2016/17.

alexander-soderlund-14-02-2016-saint-etienne---monaco-26eme-journee-de-ligue-1-20160214184407-3019
OGC Nice di antara mereka | PHOTO: Made in Foot

Jika AS Monaco menang melawan Montpellier, Minggu (15/05) mendatang, OGC Nice tak akan mendapatkan tiket tersebut.

Terlebih lagi, Nice harus menang melawan Guingamp jika ia ingin bermain di kompetisi kontinental musim depan.

Kalah, atau seri dapat membuat posisi mereka ditempati AS Saint-Etienne di kelasemen akhir Ligue 1 2015/16.

Sebenarnya, tidak bermain ikut kompetisi kontinental sekalipun, Ben Arfa harus bertahan di Nice, perpanjang kontraknya yang berakhir Juni tahun ini serta menghargainya hingga akhir.

Balas budi, karena andai kata dirinya pindah, apalagi ke FC Barcelona, ia akan kembali menjadi bulls**t!

Hell, ke mana-pun ia pindah di bursa transfer musim panas kali ini, Hatem Ben Arfa akan tetap menjadi bulls**t!

Tidak akan ada tim yang membiarkan dirinya sebebas di OGC Nice, dan sudah pantas dan selayaknya ia bersyukur akan apa yang dimiliki saat ini.

Advertisements

Hati-Hati Sindrom City!

https://i.guim.co.uk/img/media/4f850704af80da5b8dba09e6e7859b94b2768f84/186_181_2981_1789/master/2981.jpg?w=620&q=55&auto=format&usm=12&fit=max&s=34cfcb4cf8b03d96d12f25468287d171

Hasil imbang 2-2 yang diterima Tottenham saat bertandang ke kandang Chelsea, Stamford Bridge berhasil memastikan gelar liga pertama dalam sejarah Leicester City.

Tak perlu kita pungkiri lagi, “kisah Cinderella” Morgan dan kawan-kawan dapat masuk dalam salah satu kisah terbaik sepak bola, namun perjalanan barulah dimulai untuk The Foxes -julukan Leicester City-.

Kecaman terhadap penunjukkan Claudio Ranieri yang gagal bersama Yunani, penolakan Presiden Olympique Marseille pada Riyad Mahrez, hingga skandal pemecatan Nigel Pearson seketika dilupakan kala mereka semua secara pelan tapi pasti mengalahkan pesaing-pesaingnya.

1417730692
Jack Walker (R) alasan utama Blakburn juara | PHOTO: Ewoodpark.Jimdo

Kesuksesan Leicester City menyusul Blackburn Rovers sebagai klub Inggris yang menjuarai Premier League di luar ‘classic big four‘ (Arsenal, Chelsea, Manchester United, Liverpool) terbantu oleh penurunan performa tim lain, seperti juara bertahan Chelsea, dan pecahnya konsetrasi Manchester City setelah pengumuman terkait Pep Guardiola.

Setidaknya, Leicester City lebih baik ketimbang Blackburn Rovers.

Secara tenggat waktu, The Foxes hanya membutuhkan dua musim di Premier League untuk menjuarai liga. Rovers butuh waktu semusim lebih lama dengan kucuran dana besar.

Ya, bukan Chelsea atau Manchester City, tapi Blackburn-lah klub pertama yang berhasil ‘membeli’ gelar liga di tanah Britania.

3117D12700000578-3444768-image-a-3_1455308530188
Vichai (C) tentukan ambisi | PHOTO: Daily Mail

Perjalanan masih panjang buat Leicester City untuk diakui sebagai klub superior, semua akan tergantung pada target mereka dua sampai empat musim ke depan, dan juga raihan piala serta kekuatan ekonomi tim pada masa-masa tersebut.

Target akan ditentukan oleh pemilik klub, dan itu layak mendapat tempat sendiri untuk membahasnya, namun satu hal paling realistis adalah tetap membumi, dan tak berharap banyak seperti musim ini.

Dalam perjalanan menuju kemampanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan  Vichai Srivaddhanaprabha, selaku presiden klub.

Younes+Kaboul+Sylvain+Distin+Portsmouth+v+wZcKOcPwjgDl
Campbell, Kranjcar, Distin terlambat dilepas | PHOTO: Zimbio

Pertama jelas tentang gaji pemain. Portsmouth dan Leeds adalah contoh nyata bagaimana struktur gaji dapat menghalau perkembangan tim.

Portsmouth yang kembali ke divisi tertinggi Inggris pada 2003/04 sebagai juara Coca-Cola Championship awalnya hanya memberikan dana 25.5 juta Poundsterling untuk membayar pemain mereka, namun lima musim di liga termasyur Britania Raya, The Pompey -julukan Portsmouth- masuk ke dalam daftar 10 klub liga dengan gaji tertinggi (6).

Dengan dana 54.7 juta Poundsterling yang dialokasikan untuk gaji 2007/08, Pompey berhasil mengangkat FA Cup di akhir musim. Keberhasilan Pompey tersebut juga masuk sebagai salah satu kejutan di sepak bola Inggris, sama seperti Leicester.

Namun, Milan Mandaric dan Harry Redknapp memasang target terlalu tinggi untuk klub yang sebenarnya hanya mengakhiri musim di papan tengah.

Target itu diimbangi pembelian pemain muda, serta kebijakan nekat, dengan mempertahankan para veteran seperti Sol Campbell, James dan Distin.

Terlebih lagi, Redknapp enggan untuk melepas playmaker kesayangannya Niko Kranjcar sebagai penyeimbang neraca.

Portsmouth akhirnya harus kembali meningkatkan dana gaji pemain ke angka 65.1 juta Poundsterling untuk membiayai kehidupan 28 pemain mereka.

Performa tim menurun berkat kepadapatan jadwal, serta kesalahan prioritas, pada musim berikutnya 2009/10, The Pompey dinyatakan bankrut dan terusir dari Premier League.

moneyplayers
Gagal memenuhi harapan | PHOTO: Mighty Leeds

Hal serupa juga terjadi pada Leeds pada periode 2000 – 2004. Masalah finansial yang mereka alami lebih menyakitkan ketimbang Porstmouth.

Leeds United merupakan salah satu raksasa Inggris yang sempat menjadi unggulan juara pada 2000/01 dan 2001/02, tapi dua musim berikutnya performa mereka merosot hingga terdegradasi di akhir kompetis 2003/04.

Kedua tim tersebut hingga kini masih terseok-seok di liga masing-masing, dan absen dari tangga tertinggi sepak bola Inggris.

Selain masalah gaji, satu hal lainnya adalah ‘Sindrom City’.

P Doc 2 (2)
Doherty bawa Manchester City ke titel juara | PHOTO: MCFC

Leeds, Ipswich dan Chelsea masuk dalam daftar juara bertahan terburuk versi Guardian, namun pemenang dalam kategori ini adalah Manchester City.

Saat First Division masih jadi divisi tertinggi sepak bola Inggris (1888 – 2004), Manchester City sempat meraih dua gelar liga (1936/37 & 1967/68), seperti klub-klub lainnya, raihan pertama selalu terasa spesial.

Bagi Manchester City, hal ini spesial untuk alasan yang salah.

Diperkuat Frank Swift, Alec Herd, Peter Doherty, dan Eric Brook, mereka mencetak 107 gol dari 42 pertandingan liga untuk menjadi juara liga.

Piala pertama bisa jadi momentum terbaik Manchester City setelah di musim yang sama Manchester United terdegradasi dari divisi tertinggi Inggris saat itu.

Piala tersebut seharusnya menjadi awal kejayaan Manchester City atas rival mereka, tapi kenyataannya pada musim 1938/39, The Citizen -julukan populer Manchester City-, bertukar posisi dengan Manchester United.

Hal ini menjadikan Manchester City sebagai klub penuh drama di mata media Inggris. Para suporter juga melabeli klub sebagai pemberi harapan palsu (PHP) paling ulung karena tak pernah menunjukkan konsistensi untuk merajai sepak bola Inggris.

Thaksin+Shinawatra+Khaldoon+Al+Mubarak+Manchester+M7Qo062XZlnl
Kunci stabilitas Manchester City | PHOTO: Zimbio

Setelah menjalani beberapa musim gemilang, menempatkan diri di delapan hingga lima besar liga, mereka selalu kembali turun ke papan bawah.

Hal ini terus terjadi pertengahan milenium hingga Thaksin Shinawatra menggambarkan masa depan cerah kepada mereka pada 2008.

Kebiasaan Manchester City itu disebut “Typical Syndrome City“, atau Sindrom City dalam Bahasa Indonesia.

The Citizen mungkin menjadi klub paling populer yang mengidap hal ini, tapi nyatanya bukan hanya Manchester, tapi Leicester City juga memiliki penyakit serupa.

Sempat menempati papan tengah divisi tertinggi Inggris di akhir 70 dan 90-an, Leicester kemudian gagal mempertahankan momentumnya hingga harus turun ke liga tingkat tiga selama dua musim (2008 – 2010).

2DBBF0F000000578-3287654-image-a-89_1445700996549
Vardy + Schlupp = 180 ribu Pounds / pekan | PHOTO: Daily Mail

Musim ini mereka sukses menjadi klub Midlands Timur pertama yang menjuarai Premier League, mengalahkan klub legendaris Nottingham Forest dan Derby County, tapi dana alokasi untuk gaji pemain mereka juga terus meningkat setiap tahunnya.

Mulai dari 26.1 saat menjadi juara Championship, ke angka 36.6 di musim 2013/14, hingga kini 48.5 juta Poundsterling.

Andai Leicester lupa akan penyakit mereka, dan mulai berambisi terlalu tinggi, musim depan nama mereka akan kembali masuk dalam catatan sejarah, sebagai juara bertahan pertama yang terdegradasi setelah 79 tahun.

Hati-hati sindrom City, Leicester City!

Jangan Teralihkan, Ini Bukan Pengalihan

http://a.espncdn.com/combiner/i/?img=/photo/2014/1121/fc_indonesia_fan_kl_1296x729.jpg&w=738&site=espnfc

Setelah lebih dari setahun dibekukan oleh Kemenpora, akibat menolak rekomendasi untuk verefikasi klub, akhirnya hari ini, Jumat, 29 April 2016, penikmat sepak bola di Indonesia dapat kembali merasakan kompetisi liga bertajuk Indonesia Soccer Championship.

Pertandingan pertama akan dilangsungkan di Papua, di mana Persipura Jayapura akan bertemu dengan tim Ibukota, Persija Jakarta (20.00 WIB) sebelum dilanjutkan dengan Semen Padang melawan PSIM Jogjakarta.

Kehadiran kompetisi ini bak hujan di tengah kemarau, saat sepak bola nasional kita memasuki masa-masa kritis, banyak turnamen yang dihadirkan mulai dari Piala Gubenur, Presiden, Jenderal Sudirman, Bhayangkara, dan sebagainya.

Semua turnamen itu hanya bersifat sementara, namun tetap digandrungi oleh penikmat sepak bola.

Melihat animo yang begitu tinggi, ditambah kemenangan PSSI di pengadilan, akhirnya Indonesia Soccer Championship lahir.

Jadwal-ISC-A-Indonesia-Soccer-Championship-2016
Indonesia Soccer Championship A | PHOTO: Kiblat Sport 

Menggunakan format liga, memiliki dua divisi dan menaungi 76 klub, liga yang disebut juga sebagai Torabika Soccer Championship menjanjikan kompetisi jangka panjang dan kepastian hidup bagi pemain tim-tim peserta.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh kelompok suporter Persija Jakarta, Jakmania:

“yang pasti kompetisi sesungguhnya itu ditunggu oleh rekan-rekan Jakmania. Yaitu kompetisi jangka panjang yang gunanya untuk melangsungkan kehidupan pemain.”, Ungkap Ketua Umum mereka kepada BBC Indonesia.

Tak perlu melakukan survey mendalam untuk mengetahui bahwa The Jak -sapaan Jakmania- tidak sendirian. Banyak yang juga memiliki opini serupa.

fda41cb3b68bf924cafaf1b6f34fdde7_L
Indonesia masih berpeluang masuk | PHOTO: Ole.vn

Akan tetapi, sekali lagi kompetisi ini hanyalah hujan di tengah kemarau.

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mungkin sudah memberi izin kepada klub-klub peserta Indonesia Soccer Championship, Presiden Joko Widodo juga telah merestui turnamen ini dengan syarat:

  1. Kompetisi berjalan sesuai jadwal (s/d September 2016).
  2. PSSI melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) dalam waktu tiga bulan ke depan.

Syarat nomor satu masih tentatif, bisa berubah, tergantung kondisi sepanjang liga, tapi untuk persyaratan kedua, hingga kini kita masih terbentur oleh tembok keras kepala.

Hingga kini, PSSI menolak untuk melakukan KLB, padahal itu juga menjadi persyaratan yang diberikan FIFA jika Indonesia ingin mengakhiri pembekuan dari mereka.

Ya, jika ada yang lupa, sepak bola kita tidak hanya dibekukan oleh pemerintah, tapi juga asosiasi sepak bola dunia, FIFA. Mereka memiliki kasus tersendiri, namun tetap sempat memberikan tenggat waktu untuk kita menyelsaikan masalah.

5 Agustus 2016, empat bulan dari sekarang kita sudah harus bisa menyelsaikan kisruh sepak bola dalam negeri guna dapat mengikuti Piala AFF 2016, November mendatang.

609c0834-2600-42cc-8f63-cbd7021a272e_169
La Nyalla tersangkut kasus korupsi | PHOTO: CNN Indonesia

Melihat kasus korupsi Kantor Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur yang melilit Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti, sudah layak dan sepantasnya PSSI mengadakan KLB.

Dalam regulasi FIFA terkait posisi dan kekuasaan, tertulis bahwa Sekretaris Jenderal FIFA dapat melakukan intervensi atau apapun yang diperlukan jika ada anggota-pegawainya terkena kasus korupsi karena melanggar kode etik.

Namun hingga kini Presiden sekalipun belum bisa meyakinkan PSSI untuk mengadakan KLB. Sepak bola kita tetap dalam masa kritis, dan liga baru dibentuk guna melepas dahaga klub, pemain, serta suporter akan kompetisi jangka panjang.

Indonesia Soccer Championship.

Sebuah liga pelepas dahaga dan sudah ‘kodrat’-nya sementara, jangan sampai kita terbuai oleh hiburan ini, karena sesungguhnya publik sepak bola Indonesia tidak menantikan hujan, tapi pelangi yang datang sesudahnya.

Entah pelangi itu muncul 5 Agustus 2016, atau lebih awal, yang pasti sepak bola kita masih sakit hingga keindahan sesungguhnya muncul atas perpaduan warna antara FIFA, PSSI, dan pemerintah.

Haka, Genderang Perang yang Digencat FIFA

http://www.telegraph.co.uk/content/dam/football/2016/04/21/CgldbVSW4AEdaAk-xlarge_trans++XGVU14PDWc8RNN33ewoj5d3w56LE3yTYGhwtc0cHTDM.jpg

Hari ini (22/4), para pemain AC Milan menampilkan tarian ‘Haka’ sebelum menjamu Carpi di lanjutan Serie-A, Italia. Sebuah tarian tradisional Selandia Baru yang kembali dipopulerkan oleh tim nasional rugby mereka, “The All Blacks“.

Menurut laporan Telegraph, hal ini dilakukan atas kemauan sponsor baru mereka, Nivea. Tidak diketahui mengapa mereka ingin menampilkan tarian klasik milik Selandia Baru satu itu, tapi kubu AC Milan menyebutnya sebagai ‘Tekitanka‘.

Sialnya tidak ada jenis ‘Tekitanka’ dalam penjelasan Guardian terkait tarian Haka, September tahun lalu.

Pertama ada ‘Peru-Peru’, untuk perang, ini adalah Haka pertama di mana sekelompok pria pejuang Selandia Baru menarikannya sebelum berhadapan dengan lawan. Kemudian, ada juga ‘Taparahi’, tarian Haka tanpa menggunakan senjata.

Sementara tarian Haka yang ditampilkan tim Selandia Baru setiap laga rugby adalah ‘Kapa O Pango’.

z8OXE
Kapa O Pango milik The All Blacks | PHOTO: Reddit

‘Kapa O Pango’ dibuat khusus untuk rugby Selandia Baru dengan mengadopsi Haka ‘Ka Mate’, tarian selebrasi kepala suku Maori setelah lolos dari serangan musuh.

‘Ka Mate’ menjadi landasan ‘Kapa O Pango’, dan Haka menjadi sebuah atraksi tersendiri di dunia rugby, tapi olahraga itu bukan satu-satunya yang boleh melakukannya.

Mulai dari roller skate hingga sepak bola.

Pada sejarahnya, Haka memang dilakukan oleh para pejuang sebelum mereka berperang, itulah yang membuat hal ini sering disebut sebagai tarian perang. Namun nyatanya, ada pula Haka sebagai bentuk sambutan, kematian, dan perayaan. Bukan hanya perang.

Sebelum tarian ini kembali ke publik sepak bola dini hari tadi, FIFA sempat melarangnya pada Piala Dunia Wanita 2015 di Kanada.

“Kami dulu selalu melakukannya, tapi sekarang sudah tidak lagi.”

“FIFA melarangnya, kami ingin melakukannya tapi begitulah.”

“Tidak apa-apa”, Kata gelandang Selandia Baru, Betsy Hassett.

2180002_big-lnd
Tim Tahiti melakukan Haka | PHOTO: FIFA

Tidak jelas apa alasan FIFA melarang Haka, namun memang sudah banyak perdebatan terkait ‘Kapa O Pongo’ yang memiliki gestur memotong kepala sebagai bentuk intimidasi The All Blacks kepada lawan mereka.

Selain itu, Haka sebagai tarian perang memang hanya ditampilkan oleh kaum lelaki. Jika ada seorang perempuan di dalamnya, mereka biasanya hanya sebagai pelantun lagu.

Mungkin jenis kelamin menjadi salah satu pertimbangan FIFA dalam melarang Haka di Piala Dunia 2015, karena dalam situs mereka, ada artikel tentang tim nasional Jerman dan Tahiti (sepak bola pantai) yang sedang melakukan tarian tersebut.

Ya, Tahiti, karena Maori adalah sebuah suku, dan peluang mereka tersebar di luar Selandia Baru bukanlah sesuatu yang mustahil. Amerika Serikat, Inggris, ataupun Australia juga memiliki darah Maori, dan mereka rival dari The All Blacks. Untungnya Selandia Baru bukan Indonesia.

Haka telah hadir sebagai tarian identik rugby Selandia Baru pada akhir 80-an, sebelum ada asosiasi resmi untuk olahraga tersebut di ‘middle earth’.

2014, Ngati Toa Kaumatua, Hohepa Potini, menjelaskan kepada AIG esensi Haka. Katanya, Haka merupakan sebuah ritual yang menunjukkan kesiapan Selandia Baru.

Ia menyebutkan bahwa negaranya memiliki populasi yang tidak cukup tinggi, dan sering dipandang sebelah mata oleh lawan. Haka adalah bentuk mereka melupakan semua itu, serta memperingati lawannya untuk bersiap-siap.

Anggota The All Blacks, Keven Mealamu, menambahkan bahwa ritual Haka membantu mereka untuk sinkron satu sama lain, menyatu dengan rekan-rekan satu tim bahkan rumput yang mereka injak.

Bagi suku Maori, dan rakyat Selandia Baru, mereka mengenal Haka sebagai awal dan akhir. Persiapan, dan perayaan. Sejauh ini, tim nasional sepak bola Selandia Baru melakukan Haka sebagai perayaan, di akhir pertandingan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
2011, Terakhir kali  Haka di Piala Dunia Wanita | PHOTO:  The Atlantic

Sehingga aneh ketika FIFA melarang tarian tersebut ditampilkan pada Piala Dunia Wanita tahun lalu, dan berkat Nivea serta AC Milan kita kembali diingatkan akan hal ini.

13 November 2016, Papua Nugini akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita U-20, dan Selandia Baru merupakan salah satu tamunya.

Apakah saat itu Haka dapat kembali ke lapangan hijau ? Semoga aja..

Hingga kini, belum diketahui mengapa Haka dilarang oleh FIFA tahun lalu, tapi andai kata jenis kelamin menjadi penghalang, itu jelas bukan sesuatu yang ingin diungkapkan badan sepak bola tertinggi dunia.

Melihat sejarah dan pengakuan para pemain tim nasional rugby Selandia Baru, tarian ini berpengaruh besar dalam moral tim. Baik tim Selandia Baru ataupun lawan.

Tarian Haka sebelum bertanding bisa meningkatkan mental para pemain sekaligus bentuk intimidasi ke lawan. Sementara Haka seusai pertandingan, dapat dijadikan atraksi untuk meningkatkan kepekaan dunia terhadap sepak bola wanita.

Lagipula bukankah kesetaraan dan perhatian lebih untuk memajukan cabang ini menjadi agenda utama FIFA saat kongres di Hari Wanita Sedunia ?

Jadi, kenapa tidak!?

 

Stefan Kiessling, More Than Just a Kiss

Kemarin (19/4), Bayer Leverkusen resmi memperpanjang kontrak striker berambut ikal asal Jerman, Stefan Kiessling. Bukan cuma setahun, pemilik nomor punggung 11 satu ini diikat hingga 2018!

Meski memiliki Javier “Chicharito” Hernandez, Robbie Kruse, dan Ahmed Mehmedi, Bayer tetap mempertahankan ikon mereka untuk dua tahun ke depan dengan opsi menjadi staff ruang ganti masa depan.

“Kiessling adalah panutan yang ingin kami pertahankan khusus untuk tim ini, dan juga para fans”, Kata Direktur Manajer Bayer Leverkusen, Michael Schade.

Sebuah pernyataan yang dapat menjadi pedang bermata dua di masa depan.

Saat Chelsea siap kehilangan John Terry, atau Francesco Totti merasa tidak dihargai oleh AS Roma, Stefan Kiessling berani mengambil risiko dengan bertahan di Bayer yang secara kasat mata tidak membutuhkan dirinya.

Pada jaman modern seperti saat ini, untuk apa kita menjaga pemain berusia 32 tahun dengan perpanjangan kontrak ?

Chicharito-Javier-Hernandez
Chicharito produktif empat bulan | PHOTO: Just-Football

Apalagi sudah ada Chicharito di dalam tim!

Javier “Chicharito” Hernandez musim ini telah mencetak 15 gol dari 24 laga di Bundesliga, 12 diantaranya ia cetak selama periode Oktober 2015-Januri 2016 sebelum dipaksa menepi oleh cedera otot. Sementara Kiessling ?

Secara total, ia baru berkontribusi dalam 14 gol Bayer Leverkusen selama 41.38 jam berdiri di atas lapangan. Kiessling hanya berdiri di posisi ke-enam topskorer klub musim ini, kalah dari winger 19 tahun, Julian Brandt!

Buat apa Kiessling!?

Nyatanya, musim depan merupakan tahun ke-10 Kiessling bersama Bayer Leverkusen, nomor 11 telah menghiasi punggungnya sejak 2006 dan pada Bundesliga 2016/17, ia akan menyamai rekor Gonzalo Castro dalam rekor penggunaan nomor punggung.

Selain itu, Kiessling juga sudah teruji oleh waktu.

Pada musim pertamanya, Kiessling tampil lebih banyak (32) dibandingkan bintang klub, yang sudah menetap di Bayer lebih awal, Andriy Voronin (31). Semusim kemudian, Stefan Kiessling sukses memberikan 14 gol untuk klub.

Meski hanya sembilan yang ia cetak sendiri, angka itu lebih banyak ketimbang topskorer Bayer Leverkusen 2007/08, Theofanis Gekas (13).

2008, Patrick Helmes menjadi tandem Kiessling, dan bersama-sama mencetak 34 gol untik Bayer Leverkusen. Angka serupa berhasil dipertahankan Kiessling di musim berikutnya, meski dengan rekan berbeda, Eren Derdiyok.

tumblr_lpb4zgurRe1qzwba1
DerdiyoKiessling | PHOTO: Tumblr / Alekibutt

Memasuki 2010, saat penerapan striker tunggal mulai trend di kalangan para pelatih ataupun manajer, Kiessling berhasil melampaui raihan gol Derdiyok meski ikut tertutup dengan penampilan Vidal, Renato Augusto, Sidney Sam, ataupun Schuerrle.

2012, Derdiyok pergi ke Hoffenheim, dan membuat Kiessling menjadi satu-satunya pilihan Bayer. Bermain di semua pertandingan Bundesliga musim itu, Kiessling mencetak 25 gol, dan menjadi arsitek 10 lainnya untuk mengantar klub ke posisi tiga kelasemen akhir.

Gelar topskorer klub tetap dipertahankan Kiessling meski Bayer kedatangan juru gedor baru di sosok Heung-Min Son pada 2013/14, dan meskipun hal itu tidak bisa ia jaga musim lalu, mantan striker Nuernberg satu ini tetap lebih sering main dibanding bintang Korea Selatan yang kini membela Tottenham.

Delapan manajer dalam sembilan tahun, tak ada satupun yang mencampakkan seorang Stefan Kiessling di Bayer Leverkusen.

Bayer-Leverkusen-Stefan-Kiessling_2936293
Kiessling dikunci hingga musim ke-11 | PHOTO: Skysports

Memiliki postur tinggi, dan badan yang cukup besar membuat Kiessling tidak memiliki ‘saingan’ di lini depan Leverkusen.

Chicharito hanya memiliki tinggi 175 centimeter (cm), Kruse tiga cm lebih tinggi, dan Mehmedi yang paling mendekati Kiessling (191) masih terpaut enam angka (185).

Menurut Squawka, Stefan Kiessling merupakan penyerang Bayer Leverkusen yang paling aktif membantu pertahanan, dan memenangkan duel.

Tak heran jika pada akhirnya Kiessling dipertahankan Leverkusen…

Keputusan ini memang ada hubungannya dengan upaya para suporter yang meminta klub untuk mempertahankan Kiessling, memberikannya waktu bermain meski Chicharito sedang di periode terbaiknya, dan lain-lain.

Namun jika ia hanya mengandalkan pemain ke-12 tanpa berusaha di lapangan, sulit rasanya manajemen klub yang melihat penampilan Chicharito dan Ahmed Mehmedi menuruti permintaan para suporter.

Meski dalam dua musim ke depan, dirinya mungkin tak akan melewati rekor gol Ulf Kirsten, atau penampilan Rudiger Volliborn dengan status pelapis…

Setidaknya sekarang kita tahu bahwa kontrak Kiessling bukan semata-mata ciuman, seperti yang diberikan Yudas kepada Yesus, tapi karena memang ada rasa didalamnya.

Ceritakan dengan Benar!

https://media.guim.co.uk/5b01e58dd449931180e3ed1ba6e585c42e1ce37e/0_312_6000_3602/master/6000.jpg

Entah ingin kesal atau pasrah, yang pasti nafas terhela ketika membaca kolom berita di Media Indonesia (18/4) yang mengatakan bahwa Louis Tomlinson akan memerankan Jamie Vardy di film biografi pemain Leicester City tersebut.

Koran Media Indonesia menyadur berita tersebut dari Mirror, fokus mereka bukan Vardy atau Tomlinson, melainkan Ranieri. Pelatih asal Italia tersebut merasa bangga ketika mengetahui Robert De Niro sedang diplot untuk jadi dirinya di film biografi tersebut.

“Mengapa tidak ? De Niro aktor hebat”, katanya.

Sejauh ini laporan yang beredar, Louis Tomlinson sebagai tokoh utama, Robert De Niro memerankan Claudio Ranieri,dan Vinnie Jones mengambil peran Nigel Pearson. Menarik di atas kertas, berpotensi jadi bencana.

Robert De Niro membutuhkan diet cukup ketat untuk memerankan Claudio Ranieri, Vinnie Jones cukup masuk akal menjadi Pearson, sama-sama bermuka keras dan memiliki tinggi 185 centimeter, tapi Louis Tomlison sebagai Jamie Vardy…? *sigh*

Louis-Tomlinson
Saat Gabby diancam mati | PHOTO: Mirror

Demi kepentingan marketing global, Louis Tomlinson mungkin dapat menarik massa berkat ketenarannya di atas panggung.

Mungkin para directioners, atau fans One Direction akan menyaksikan film biografi Jamie Vardy berkat penunjukkan ini, tapi bagaimana dengan para penikmat sepak bola ?

Kita belum tahu bagaimana ia akan memerankan Vardy, bahkan laporan Mirror sampai saat ini masih berstatus rumor, tapi Tomlinson nyatanya punya sejarah buruk di dunia sepak bola.

Tomlinson merupakan suporter Doncaster Rovers yang sempat dikontrak oleh tim kesayangannya untuk kemudian dibuang Paul Dickov ke tim cadangan.

Dia adalah sosok yang cukup familiar.

Ia sering bermain dalam berbagai pertandingan amal, menjadi pemilik saham bersama Doncaster Rovers, dan perancang kostum klub untuk kompetisi musim depan.

Sayangnya, familiar bukan berarti diterima dengan tangan terbuka. Tomlinson dibuang Paul Dickov karena tidak memiliki komitmen kepada tim.

Ia juga dikenal sebagai pemain manja yang membuat Gabby Agbonlahor mendapat surat ancaman dari fans One Direction karena menjatuhkan Tomlinson di pertandingan amal Stiliyan Petrov.

Terakhir, suporter Rovers memprotes keputusan klub yang memenangkan desain Louis Tomlinson dalam kompetisi merancang kostum baru bersama apparel Thailand, FBT.

Sebenarnya ada satu alasan lagi, tekstur wajah Tomlinson yang tidak sesuai dengan Vardy, tapi lupakanlah. Ingat, Robert Downey Jr. dan Tom Cruise di “Tropic Thunder“. Teknologi dan rias wajah bisa membantunya.

goal_lg
Merubah sejarah | PHOTO: Sconefest

Pada intinya, pasti akan banyak yang memprotes jika Tomlinson benar-benar menjadi tokoh utama di film biografi Jamie Vardy.

Akan tetapi, sekali lagi, kita belum tahu kemampuan akting Tomlinson, dan jika terpilih sebagai Vardy, hal itu akan jadi satu-satunya cara untuk membuat sebagian kita rela.

Beban sesungguhnya akan diemban Adrian Butchart, penulis naskah “Goal” dan “Goal II” tersebut kabarnya bukan hanya menuangkan ide, pemikirannya tentang film ini melalui tulisan, tapi juga menjadi produsernya.

Butchart harus menceritakan kisah sepak bola paling fenomenal musim ini dengan begitu detil dan benar karena mungkin perjalanan karir Jamie Vardy sebelum membela Leicester City masih tak begitu diketahui banyak orang.

Ya, kita tahu ia dulu bermain di klub semi-profesional, dan hanya menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan sambilan. Kita tahu juga bagaimana ia menjadi pemain non-liga paling mahal di Inggris, dan kini menjadi striker tim nasional, tapi apa cuma itu ?

Kurang dari 30 kata !? Dalam sebuah film kita tidak membutuhkan jawaban dari “apa”, tapi “bagaimana“, dan “kenapa“.

Jangan sampai Butchart membuat dunia alternatifnya sendiri seperti yang ia lakukan di “Goal II”, karena jika hal itu terjadi, sebagus apapun Louis Tomlinson, Zac Efron ataupun Robert Pattinson memerankan Vardy, pasti akan ada kritik yang menjatuhkan.

Sama saja dengan “Batman v Superman: Dawn of Justice“, sebagus apapun Ben Affleck memerankan Batman, Zack Snyder membuatnya tidak memiliki batasan moral dengan memaksimalkan senjata api. Nilai Batman seakan hilang.

Satu-satunya cara untuk Adrian Butcharat mendapatkan pujian adalah setia pada sumber utamanya, Jamie Vardy, dan ceritakan dengan benar!

“The UK countries England and Scotland are the most deadly in Europe”

5 Cerita Dibalik Undian Semi-Final UCL & UEL 2016

http://a.espncdn.com/combiner/i/?img=/media/motion/ESPNi/2016/0408/int_160408_net_fc_hiddink_on_conte_chelsea/int_160408_net_fc_hiddink_on_conte_chelsea.jpg&w=738&site=espnfc

Babak semi-final UEFA Champions League (UCL) dan Europa League (UEL) telah ditentukan sore hari tadi (15/4). Pada turnamen UCL, Manchester City akan bertemu Real Madrid, dan Atletico Madrid berhadapan dengan Bayern Muenchen. Sementara untuk UEL, Liverpool bentrok melawan Villarreal, dan Shakhtar Donetsk dijodohkan dengan juara bertahan, Sevilla.

Rangkaian laga menarik dan juga besar mengingat kedua turnamen ini adalah ajang untuk klub-klub terbaik di Benua Biru, tapi apa saja sebenarnya bumbu-bumbu cerita yang dapat membuat pertandingan semi-final Champions atau Europa League tahun ini semakin pedas ?

Berikut lima cerita dibalik hasil undian semi-final UCL & UEL 2015/16:

5. Uji Coba Aguero ?

Agueo_s_top_ten_go_2589349n
Aguero tak miliki klausal anti-Real | PHOTO: The Sun

Masih ingat bagaimana final UCL 2006 menjadi sebuah ujian untuk penyerang favorit Arsenal, Thierry Henry sebelum ia bergabung ke FC Barcelona ?

Hal itu nampaknya juga bisa terjadi saat Manchester City bertemu dengan Real Madrid di semi-final UCL kali ini.

Ketertarikan Real Madrid pada mantan pemain Atletico ini sudah cukup lama terdengar, dan berkat info Football Leaks, hal itu bisa terealisasikan.

Saat Real Madrid ingin memboyong Sergio Aguero ke Bernabeu pada 2013, banyak media seperti Tribal Football yang melaporkan bahwa menantu Diego Maradona itu dilarang untuk pindah ke rival sekota Atletico. Klausal anti-Real Madrid kabarnya tertera dalam perjanjian Atletico dengan Manchester City.

Namun Football Leaks yang fokus dalam pembeberan detil dan nilai kontrak pemain, mengatakan hal berbeda. Tak ada klausal tersebut di kontrak Aguero.

Aguero kini diyakini dapat hengkang ke Real Madrid, tapi sebelumnya, ia harus meyakinkan Zidane. Apakah dirinya merupakan sosok tepat untuk bermain di bawah arahan mantan kapten Perancis ?

Jika hal ini terjadi, Sergio Aguero akan menjadi pemain kedua yang dikirim Manchester City ke Real Madrid setelah masa pinjaman Emannuel Adebayor pada 2011.

4. Kisah Cinderella di Dalam Kapal Selam

02-spain-28
Mesin Kapal Selam terus panas | PHOTO: ISF

Berkat kemenangan dramatis melawan mantan timnya, Juergen Klopp sukses mengantarkan Liverpool ke semi-final. Klopp sukses jadikan The Reds -julukan Liverpool- unggulan ajang ini, tapi The Yellow Submarines -julukan Villarreal- juga bukan lawan sembarangan.

Mereka memang sudah biasa dipandang sebelah mata, dan terus menganggu pikiran orang-orang yang meragukan Kapal Selam Kuning. Tanyakan saja hal itu pada fans Valencia.

Hal serupa juga terjadi dalam beberapa musim terakhir mereka, setelah lolos ke semi-final UCL 2005/06, akhiri musim di posisi dua La Liga 2007/08 dengan keunggulan 10 poin dari FC Barcelona, Villarreal terkena musibah.

Pada 2012 Villarreal turun dari La Liga, dan manajer baru yang ditunjuk untuk mengarahkan mereka di Liga Adelante, divisi dua Spanyol, Manolo Preciado, meninggal dunia karena serangan jantung.

Untungnya hal itu tidak mematikan mesin Kapal Selam Kuning, Villarreal berhasil promosi dari Liga Adelante sebagai juara dua, mengakhiri musim 2013/14 La Liga di posisi enam, mendapat tiket turnamen kontinental, dan mempertahankannya pada kampanye berikutnya (2014/15).

Kini mereka kembali menembus semi-final UEL untuk ketiga kalinya setelah 2003/04 dan 2010/11.

Momentum terus berjalan secara stabil dengan dorongan Cedric Bakambu sebagai satu-satunya calon topskorer UEL yang masih bertahan di turnamen. Sebuah kisah Cinderella di dalam kapal selam, tapi kapankah lonceng mulai berbunyi bagi Roberto Soldado, Jonathan dos Santos, dan kawan-kawan ?

3. Kenangan Palop

9640293
Palop Hantui Shakhtar | PHOTO: Bayer 04

Pertemuan antara Shakhtar Donetsk dengan Sevilla membawa kembali kenangan klasik para penikmat sepak bola.

Sembilan tahun lalu, UEFA Cup 2007, Sevilla FC ditahan imbang 2-2 oleh Shakhtar Donetsk pada leg pertama. Laga kedua di Ukraina-pun menjadi krusial bagi juara bertahan.

Bermain imbang tanpa gol di babak pertama, Matuzalem sukses membawa Shakhtar unggul pada awal paruh kedua.

Tak lama kemudian, Maresca kembali menyamakan kedudukan untuk aggregat 3-3. Shakhtar Donetsk masih memegang kendali berkat gol tandang, lalu saat pertandingan memasuki menit-menit penutupan, Elano yang datang sebagai pemain pengganti di pertengahan babak kedua mencetak gol untuk mengunci kemenangan Shakhtar Donetsk.

Setidaknya itu yang terlihat, dan muncul dipikiran.

Memasuki injury time, Andres Palop mulai melakukan lari-lari kecil menjauhi gawangnya selagi Sevilla menyerang. Serangan Sevilla itu akhirnya berbuah sepak pojok, dan Andres Palop berlari ke kotak penalti, Dani Alves mengirim umpan dari bendera kanan, Sang Kiper berdiri bebas…

GOL!!!

Kedudukan kembali imbang 2-2 melalui kesempatan terakhir di waktu normal!

Memaksa perpanjangan. Sevilla berbalik unggul lewat gol Chevanton, melaju ke delapan besar, dan berhasil mempertahankan gelar juara mereka.

2. Anti Bertemu Aktor

download
Pellegrini tidak suka pengaruh Perez | PHOTO: ESPN FC

Manuel Pellegrini memiliki nama Real Madrid di resume pekerjaannya. Klub impian yang dibenci oleh Pria asal Chile ini.

Ia mengaku kesal dengan kebijakan Presiden Real Madrid, Florentino Perez yang membeli pemain bintang, terbaik dunia, tapi tidak sesuai kebutuhan.

Galacticos Policy“.

Jonathan Liew dari Telegraph sempat mengutip pengakuan Pellegrini dalam tulisannya terkait isu ketetarikan Chelsea pada pria satu ini pada 2013.

“Tidak baik memiliki sebuah orkestra dengan 10 gitaris, dan tidak memiliki pianis.”, Katanya. Menurut Pellegrini, Real Madrid yang dibentuk Florentino Perez kala ia melatih hanyalah sebuah orkestra gendut dan berlubang.

Ia juga mengatakan bahwa pemain-pemain yang diinginkannya untuk menetap justru dijual oleh Sang Presiden.

Pellegrini senang membangun timnya sendiri, hal itu terlihat di Villarreal yang tidak memiliki kekuatan ekonomi, dan kebalikannya, Manchester City.

Kini, ia harus berhadapan dengan Zinedine Zidane, mantan punggawa Los Galacticos, yang kini melatih Real Madrid dan terikat dalam “Galacticos Policy” milik Florentino Perez.

Tak ada waktu yang lebih tepat dibandingkan pertandingan ini untuk Manuel Pellegrini ataupun Perez untuk membuktikan kebijakan siapakah yang terbaik?

Kumpulan gugusan bintang, atau orkestra lengkap yang tak kelebihan personil dalam instrumennya ?

1. Menentukan Pikiran Chelsea

download (1)
Skenario di bawah mustahil, lupakan | PHOTO: ESPN FC

Pep Guardiola dan Diego Simeone tentu merupakan dua pelatih terbaik yang dimiliki dunia sepak bola saat ini.

Bukan dua teratas, tapi mereka ada dijajaran terbaik.  Memiliki pengakuan dunia, keduanya sempat diminati oleh klub asal Inggris, Chelsea, sebelum memutuskan pilihan pada Conte.

Namun ada satu hal unik yang diangkat berbagai media saat dua nama ini menjadi incaran The Blues -julukan Chelsea-, kabarnya akan lebih memilih Simeone dibanding Guardiola, meskipun jika Pep sedang menganggur.

“Simeone lebih baik dibanding Pep” menjadi topik utama mereka. Sebuah hal aneh jika kita melihat rekor dan raihan piala kedua sosok tersebut, tapi jika menyandingkannya dengan Chelsea, Simeone memang terlihat cocok.

Permainan displin, agresif, dan menitik-beratkan pada sektor pertahanan, nahkoda Atletico Madrid sangatlah mirip dengan manajer favorit Chelsea:

Jose Mourinho.

Ya, rumor Pep ataupun Simeone ke Chelsea sudah menjadi sampah. Mereka telah memilih Conte yang turun dari tim nasional Italia usai Euro 2016, tapi sampah sekalipun masih bisa didaur ulang atau dikilokan menjadi uang.

6 April 2016, Conte terjerat kasus pengaturan pertandingan Serie B -divisi dua Italia- dan terancam kurungan penjara selama enam bulan.

Ia baru akan mengetahui putusan pengadilan pada pertengahan Mei. Berarti, jika Conte dinyatakan bersalah, ia akan absen hingga November 2016.

Saat itu kompetisi 2016/17 sudah akan berjalan selama tiga atau empat bulan, dan Chelsea belum memiliki opsi cadangan.

Pada hari di mana berita pengaturan skor Conte turun ke publik, The Blues mengatakan bahwa hal tersebut tak akan mempengaruhi perjanjiannya dengan mantan manajer Juventus.

Namun, melihat catatan sejarah dan rekor seorang Roman Abramovic, bukan tidak mungkin ia kembali mencari nahkoda.

Pep dan Simeone.

Pep Guardiola sudah menandatangani kontrak dengan Manchester City, tapi masih ada unsur pembuktian di laga ini. Apakah pandangan Chelsea benar ?

Pertandingan ini bisa menjadi salah satu daya ukur pengusaha asal Russia tersebut sebelum mengambil keputusan terkait masa depan klubnya.

Kobe Bryant, Hadiah Sepak Bola untuk Basket

https://i.ytimg.com/vi/zE4KBZct81Q/maxresdefault.jpg

Kobe Bryant. Setelah 20 tahun berkarir di atas licinnya lapangan basket, “The Black Mamba” akhirnya memutuskan untuk pensiun dengan menjamu Utah Jazz pagi tadi (14/4).

Pertandingan yang dihadiri oleh mantan rekan satu tim Kobe, para selebritis bahkan David Beckham berakhir dengan skor 101-96 untuk kemenangan LA Lakers. Kobe mencatat 60 poin dalam laga tersebut.

Penutupan sempurna untuk sebuah era, apa hubungannya dengan sepak bola ?

Kobe Bryant adalah seorang maestro di lapangan basket. Ia adalah pahlawan dan sosok yang membuat olahraga itu populer di sebuah generasi.

Generasi yang tidak sempat melihat kejayaan tim impian Chicago Bulls dengan Michael Jordan, Scottie Pippen dan Dennis Rodman.

Kobe menjadi lem permainan basket untuk generasi tersebut karena Iverson pensiun terlalu dini, dengan kata lain, tanpa memiliki hubungan dengan sepak bola, Black Mamba tetap layak mendapatkan sebuah penghargaan khusus.

video-undefined-19D5336600000578-649_636x358
Kobe-Messi adu selfie | PHOTO: Daily Mail

Nyatanya Kobe Bryant memiliki hubungan sangat erat dengan sepak bola. Kobe Bryant pasti pernah kalian lihat di sebuah iklan, duduk bersama Messi.

Ya, dia ada di sebelah seorang pesepakbola yang dapat dikatakan terbaik saat ini. Bersebelahan, sangat dekat!

Namun, jauh sebelum ia bertemu Lionel Messi, Kobe Bryant menghabiskan masa kecilnya di Italia. Basket di Negeri Pizza tidak buruk, tim nasional Italia mengoleksi berbagai medali Olimpiade melalui cabang ini, tapi apa yang lebih diminati publik ? Sepak bola!

Dalam sebuah konfrensi pers, Kobe Bryant bercerita tentang pengalamannya selama di Italia.

Saat itu dirinya ingin berlatih basket, namun di bawah ring, berdiri sebuah gawang yang digunakan anak-anak lain untuk sepak bola.

Kobe tak mungkin memaksakan kehendak, dan menganggu permainan, tapi ia juga terlalu malas jika harus pulang.

Kobe Bryant akhirnya memilih untuk menawarkan diri ikut dalam permainan sepak bola, dan menekuninya selama satu setengah tahun sebelum kembali fokus ke basket.

1452517443-screen-shot-2016-01-11-at-80330-am.png
Durant korban nutmeg Bryant | PHOTO: Note.Taable

Secara terbuka, seorang legenda basket yang disandingkan dengan Michael Jordan, mengakui bahwa dirinya suka dengan sepak bola dan berterimakasih padanya, karena berkat Si Kulit Bundar, Kobe dapat melihat sudut pandang berbeda di atas lapangan.

Setiap kali ditanya tentang hubungan sepak bola dan basket, Kobe selalu menjawab dengan penuh antusias:

“Sepak bola adalah olahraga terbaik untuk melatih kemampuan basket kita!”.

Menurutnya sepak bola melatih komunikasi, kerja sama tim, dan pergerakan kaki, tiga hal penting dalam basket.

Kepada Deadspin Kobe menjelaskan tentang pengaruh bola kaki dalam permainannya. “Sepak bola begitu kompleks.”

“Basket hanya mengajarkan kita untuk melihat permainan dalam dua sisi.”

“Sementara di sepak bola, bisa tiga atau empat bahkan!”

“Bagaimana caranya bergerak dan membaca pola segitiga (penting di basket) dan sebagainya.”, Jelas Kobe.

Januari lalu, saat Lakers bertemu Oklahoma City Thunder, Kobe mengoper bola melalui sela-sela kaki Kevin Durant dan membantu timnya mencetak angka.

Saat ditanya dari mana ide itu muncul, ia hanya menjawab:

“Itu hanyalah sepak bola.”

Teknik yang sering kita sebut sebagai nutmeg di dunia sepak bola, ia terapkan dalam permainan basket. Kobe Bryant memang seorang atlet basket.

Ia menghabiskan 20 tahun untuk membela LA Lakers, tapi dirinya akan seperti sekarang karena visi permainannya yang diasah oleh sepak bola.

Kini Kobe telah gantung sepatu, ia menjuarai National Basketball Association (NBA) sebanyak lima kali, terpilih sebagai All-Star atau perang bintang di 18 pertandingan, dan jadi pemain terbaik (MVP) dalam dua kesempatan.

Sulit melihat LA Lakers tanpa seorang Kobe Bryant, dia atlet basket biasa.

kobe-nash-raptors
Kobe dengan pemilik RCD Mallorca, Steve Nash | PHOTO: Lakerholicz

Pernah berpikir mengapa kenapa Dwayne “The Rock” Johnson mengeluti gulat profesional ketimbang American Football ? Atau Niels dan Herald Bohr fokus ke matematika-fisika dibanding tim nasional Denmark ?

Jawabannya karena mereka adalah ‘nabi’.

Baik Rock dan Bohr bersaudara tidak pernah membenci olahraga yang mereka tekuni sebelumnya.

Tiga sosok itu membuktikan bahwa dalam diri kita terdapat banyak nilai serta talenta yang berhubungan satu sama lainnya. Sama seperti Kobe Bryant.

Ia bukan seorang musisi yang mendapat simpati dan kembali populer di telinga generasi baru setelah dirinya meninggal dunia.

Kobe Bryant adalah ‘nabi’ yang diutus sepak bola untuk mewartakan ajaran-ajarannya, terutama kepada mereka yang tidak, dan belum percaya.

Thank You Kobe!

Besar, Banci, Banyak Uang, Pecundang!

http://www.telegraph.co.uk/content/dam/football/2016/03/02/champleaguedraw-large_trans++qVzuuqpFlyLIwiB6NTmJwfSVWeZ_vEN7c6bHu2jJnT8.jpg

Liga Super Eropa merupakan mimpi klub-klub superior Benua Biru.

Mereka akan terus bertemu dengan tim-tim sekelas dalam kompetisi ini, meraup keuntungan lebih lewat penjualan tiket dan hak siar televisi, yang kaya akan semakin berkelimpahan, terus mendominasi pasar sepak bola.

Setidaknya itulah yang ada dipikiran Presiden Real Madrid, Florentino Perez kala ia membuat proposal terkait Liga Super Eropa.

Guarantees that the best always play the best – something that does not happen in the Champions League.“, itulah yang tertulis di halaman wikipedia Liga Super Eropa. Merasa terancam, UEFA kini mulai memutar otak, ‘memperbaiki UEFA Champions League (UCL)

Menurut laporam Mirror, format baru yang sedang dikaji adalah pengurangan peserta dari 32 tim di fase grup jadi 16 klub, dibagi ke dalam dua grup dengan masing-masing delapan peserta.

The Independent menambahkan bahwa format ini akan hanya mengakomodir delapan negara terbaik UEFA, artinya jika mulai diterapkan musim depan, UCL hanya berisikan klub Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, Portugal, Russia dan Ukraina. Tanpa Ajax, Galatasaray, Celtic, Anderlecht dan lainnya.

Sebuah langkah berani dari UEFA mengingat asosiasi sepak bola Eropa itu memayungi 54 negara. Itu belum termasuk Monako, Kepulauan Jersey, dan Katalonia yang sedang mengincar kartu anggota FIFA.

miguel--621x414
Gil Marin percaya kemampuan Atletico Madrid | PHOTO: Live Mint

Mereka yang punya pamor dan uang, sudah selayaknya memiliki kekuatan.

Wacana ini menjadi bentuk ketakutan UEFA pada klub superior seperti Real Madrid. Bahkan, laga antara Atletico Madrid melawan FC Barcelona di UCL pekan lalu sudah memberikan indikasi tersebut.

Bek Atletico Madrid, Felipe Luis menyebut wasit Felix Brych membela klub Katalan dengan mengusir Fernando Torres. Sebuah dakwaan yang melekat lama di FC Barcelona, tapi hal ini diperkuat oleh Gil Marin, mantan presiden Atletico Madrid yang mengindikasikan konspirasi Jerman di laga tersebut.

Ia setuju akan keputusan Brych yang mengusir Torres, tapi menurutnya, Luis Suarez juga harus mendapatkan nasib serupa.

“Karl-Heinz Rummenigge ingin semi-final UCL sesuai dengan keinginannya, dan hal itu akan terjadi.”, Kata Marin kepada Marca.

Sebelum Atletico Madrid bertemu FC Barcelona, CEO Bayern Muenchen, Karl-Heinz Rummenigge memprotes UEFA yang mempertemukan klubnya dengan Juventus dan masih memungkinkan Benfica untuk lolos ke delapan besar.

Felix Brych kebetulan juga asal Jerman dan muncullah teori konsipirasi itu.

“Sepak bola seharusnya tidak didominasi oleh klub-klub besar!”, Ujar Marin.

maxresdefault (1)
Chelsea kabarnya ikut rapat rahasia | PHOTO: Youtuibe

Unik jika kita melihat pola sepak bola modern, label ‘besar’ didapat karena mereka berhasil mendominasi lapangan sepak bola.

Kata ‘besar’ tak akan melekat jika mereka gagal menunjukkan konsistensinya meraih gelar dan tiket zona Eropa di kompetisi masing-masing, dan menurut nahkoda FC Barcelona, Luis Enrique, Atletico Madrid jugalah ‘klub besar’.

Logikanya Atletico Madrid melemparkan kritik pada kaumnya sendiri. SALUT!

Sikap Gil Marin itu patut dipuji, ia yakin Atletico Madrid tidak takut akan ancaman klub-klub kuda hitam yang bisa mengancam kemapanan klub.

Ya, takut, dari semua alasan yang diucapkan perwakilan klub superior Eropa, intinya hanyalah satu, ketakutan. Uang dan tingkat kompetisi hanyalah zona aman yang mereka sebutkan sebagai tameng di media massa.

Bayangkan bagaimana bisa konsep yang sudah ditawarkan Perez sejak 2009 baru mendapat perhatian sebesar ini tujuh tahun kemudian.

Saat di mana Leicester City, Tottenham Hotspur, West Ham United, OGC Nice, Stade Rennes, Celta Vigo, Villarreal, Sassuolo, Fiorentina, dan Hertha Berlin sedang merasakan masa-masa terbaiknya, merusak tatanan liga.

Pada saat bersamaan, Chelsea, Olympique Marseille, Lyon, Valencia, Sevilla, Inter Milan, hingga Juventus dihadapkan dengan perlawanan berat berbagai klub yang di atas kertas kalah kualitas dibanding mereka.

Bahkan pada pertandingan La Liga minggu lalu, FC Barcelona tunduk 1-0 dari Real Sociedad sejak lima menit pertama.

Kejutan-kejutan inilah yang ingin dihapuskan dengan Liga Super Eropa.

Sebagai klub raksasa, mereka tidak ingin menanggung malu dengan kalah melawan tim ‘kacangan‘, dan keberadaan Liga Super Eropa, para superior tak perlu takut akan hal tersebut.

Kalah dari sesama ‘klub besar’ lebih dapat dimaklumi, dan tidak memberikan rasa malu seperti tunduk melawan ‘klub medioker’.

dea957bac0bebb791382ef67b7f6ba42
Ketakutan abadi | PHOTO: Quotesgram

Para klub superior Eropa sedang mengaplikasikan kata-kata Howard Phillips Lovecraft, seorang penulis novel fiksi horor yang membuat makhluk mitologi legendaris, Cthulhu. Coba di googling

Padahal kata Profesor Sosiologi dan Jenis Kelamin, Michael Kimmel, olahraga identik dengan maskulinitas, sifat tersebut condong ke laki-laki.

Entah bagaimana mereka di Eropa sana diajarkan, tapi hampir semua budaya di Indonesia mendoktrin para lelaki untuk berani.

Berani menghadapi tantangan dan keluar dari zona nyaman. Bukan manja seperti yang ditunjukkan oleh klub-klub superior Eropa yang meminta UEFA bertindak atau membentuk liga tandingan.

Lidah serasa ingin berkata, “Situ laki, bukan!?“, akan menjadi pilihan sebagai respon klub-klub manja Eropa. Untuk apa merubah format UCL, mengurangi tiket peserta, kala sistem yang sudah diterapkan saat ini bisa mengakomodir semua negara di Eropa.

Terdengar bias jenis kelamin, atau merendah pesepakbola perempuan mungkin, bukan maksud untuk melakukan hal itu.

Bayangkan saat para raksasa yang menyebut diri mereka sebagai ‘terbaik Eropa’ takut, tidak ada kata lebih tepat dibandingkan “pecundang”.

Wanita bukan pencundang, begitu juga dengan laki-laki, ini sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan jenis kelamin.

1280x720-pDH
Scott Sterling bahkan lebih menghibur | PHOTO: Daily Motion

Tidak ada kategori yang lebih tepat ketimbang “pecundang” bagi mereka yang menjadikan ‘liga kompetitif’ sebagai tameng mendapatkan zona nyaman.

UEFA sebagai ‘ayah’ dari klub negara-negara anggota harus berani bertindak tegas, mengajarkan pilihan sulit kepada’anak-anaknya’, bukan memanjakan mereka. Biarkan saja klub-klub manja yang mendukung Liga Super Eropa itu membuat kompetisi mereka.

Kehadiran kompetisi baru, ditambah liga, turnamen domestik dan UCL serta UEFA Europa League (UEL) seperti biasa akan memperketat jadwal mereka, dan hal itu akan membuat para manajer semakin gerah.

Perlu diingat bahwa Liga Super Eropa diinginkan petinggi-petinggi klub, bukan pelatih atau manajer di yang sudah sering menyalahkan jadwal saat ini.

Nantinya, mereka mungkin hanya akan melihat Liga Super Eropa sebagai laga uji coba, layaknya International Champions Cup.

Andai kata UEFA tidak merubah format kompetisi mereka, Liga Super Eropa hanya akan dipandang sebagai uji coba layaknya ICC. Tidak ada kepetingan apapun selain mendapat kebanggaan di mata dunia.

Menurut situs resmi ICC, ‘turnamen pra-musim antar klub-klub terbaik Eropa’ disaksikan oleh 80 juta pasang mata lewat layar televisi, sementara final UCL 2015 mencatatkan lebih dari dua kali lipatnya (180.000.000).

Uang hak siar lama-kelamaan akan menipis, dan akhirnya Liga Super Eropa dibubarkan.

Pada 2014, BBC sempat meliput pandangan warga Baton Rouge, Louisiana, di mana video tersebut mereka beri judul, “Football (soccer) seen as ‘sissyball’ in Deep South“. Yup, ‘sissyball‘, permainan bola untuk banci, dan sikap UEFA yang memanjakan para penakut dengan format baru UCL hanya akan membenarkan pandangan itu. Lagipula, sepak bola dilabeli sebagai olahraga rakyat, bukan konglomerat!`

Jangan Galau Gara-Gara Carroll

Andrew Thomas Carroll jadi pahlawan West Ham United setelah mencetak hat-trick saat The Hammers -julukan West Ham- bertemu Arsenal (9/4).

Tiga golnya sukses menahan gempuran Alex Iwobi dan kolega di Boleyn Ground, yang menurut Sam Allardyce telah mematikan peluang juara klub asuhan Arsene Wenger musim ini.

Sebuah momen indah bagi Carroll, yang kini mengincar tiket pesawat, terbang ke Perancis bersama tim nasional Inggris, tapi apa ia layak masuk skuat Roy Hodgson dan bermain di Euro 2016 ?

Perlu diakui bahwa ada beberapa pemain West Ham United yang layak untuk terbang ke Perancis, Mark Noble dan Aaron Creswell contohnya.

Selalu menjadi pilihan utama Slaven Bilic, dan hanya absen dua kali sepanjang musim ini, menurut data Squawka, hanya Charlie Daniels, Simon Francis, dan Adam Smith dari Bournemouth, bek Inggris yang memiliki performa lebih baik musim ini.

Daniels dan Smith bermain 31 kali seperti Creswell, sedangkan Simon Francis memiliki satu laga lebih banyak (32). Aaron Creswell juga salah satu pemain West Ham United yang paling sering menciptakan peluang. Hanya Dmitri Payet, dan Mark Noble membuat lebih banyak peluang dibanding Creswell.

Mark Noble sendiri merupakan pemain terbaik yang dimiliki Inggris saat ini. Menurut Squawka, hanya Ross Barkley yang tampil lebih baik dibanding Noble.

noble3
Jangan lupakan Noble | PHOTO: Talk Sport

Mark Noble belum pernah mengenakan seragam tim nasional senior bersama Inggris, dan diusianya yang sudah hampir kepala tiga, layak dan sepantasnya Roy Hodgson memberikan tiket Euro 2016 kepada kapten West Ham United ketimbang Danny Drinkwater.

Bukan berarti Drinkwater tidak layak terbang, tapi performa Leicester musim ini lebih bergantung pada Kante dan Albrighton, ex-Manchester United satu itu hanya terbantu oleh penampilan apik rekan-rekannya, sementara Mark Noble merupakan motor West Ham.

Tanpa diragukan lagi, Noble dan Creswell layak terbang ke Perancis, tapi tidak dengan Andy Carroll. Mantan striker Newcastle United itu merupakan pemain favorit Sam Allardyce, tinggi, besar, dan hebat di udara.

Semenjak pindah ke West Ham, Carroll dapat menunjukkan kualitasnya yang sempat hilang di Liverpool, tapi ia bukanlah sosok tepat untuk Inggris.

Melihat skuat terakhir Inggris saat uji coba melawan Jerman dan Belanda, Roy Hodgson membentuk The Three Lions -julukan tim nasional Inggris- baru.

Tim yang akan mengandalkan bola-bola datar dan cepat untuk menghidupi Kane, Vardy, dan Welbeck. Mereka bukan lagi tim yang menggunakan umpan tinggi untuk menciptakan gol. Bukan lagi era Crouch-Heskey pada 2010!

_69291679_lambert_getty
Lambert sempat merasakan Inggris baru | PHOTO: BBC

Carroll musim ini sudah mencetak tujuh gol, lima ia sarangkan dengan kepala, dan tiga diantaranya baru dicetak pekan lalu kala menjamu Arsenal.

Carroll mungkin bisa dijadikan cadangan untuk tim nasional, andai Inggris gagal mencetak gol selama 80 menit di pertandingan, Big Andy bisa masuk untuk menguasai udara, tapi itu sikap sebuah tim yang depresi.

Melalui Vardy, Kane, Sturridge, dan Welbeck, Inggris bisa memainkan umpan-umpan terobosan, bola cepat dan pendek untuk mendobrak pertahanan lawan.

Sistem ini sudah digunakan Hodgson sejak 2014, dan meski Inggris gagal lolos grup setelah hasil terbaik mereka hanyalah imbang melawan Kosta Rika, dari tiga pertandingan, semua peluang dan gol Inggris tercipta lewat permainan bola datar.

Saat itu, Hodgson mengandalkan Sturridge, Welbeck, Rooney, dan Lambert sebagai juru gedor Inggris. Susunan tersebut nampaknya tidak akan banyak berubah dengan Vardy dan Kane menggantikan Lambert, sementara Rooney didaftarkan sebagai gelandang, andai ia sembuh tepat waktu.

Watford+v+West+Ham+United+Premier+League+oUjrz8kUxp3l
Lebih cocok ketimbang Carroll | PHOTO: Zimbio

Semua telah tertata rapi, Kane dan Vardy bisa mempercantik permainan kaki ke kaki Inggris dengan Alli dan Noble di lini tengah.

Bahkan sebenarnya, Sturridge juga tidak layak untuk tampil di Perancis, Juni nanti. Ia lebih banyak menghabiskan musim ini di meja operasi ketimbang lapangan.

Nama Deeney dari Watford bisa jadi pilihan andai kata Hodgson ingin meninggalkan Sturridge. Kurang pengalaman ? Ada Jermaine Defoe dari Sunderland, tapi perlu diingat striker 33 tahun tersebut sering kesulitan menjaga bola, dan itu bisa jadi masalah untuk Inggris.

Bagaimanapun Hodgson akan merancik lini serangnya di Perancis nanti, satu hal yang pasti ia harus menjaga gaya permainan Inggris, dan banyak pilihan lain dengan jumlah penampilan, gol, dan atribut lebih baik ketimbang Andy Carroll. Jadi jangan galau gara-gara Carroll!